Kabut Asap Karhutla 2026: Dampaknya bagi Pelari dan Cara Tetap Aman Berlatih
Redaksi Indonesia Marathon ·
Musim kemarau 2026 kembali membawa kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ke sejumlah wilayah Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 7 provinsi dan 68 kabupaten/kota terdampak sejak 18 Agustus hingga 21 Oktober 2026. Provinsi yang terdampak adalah Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Riau.
Bagi pelari, kondisi ini perlu diperhatikan. Saat berlari, kita menghirup udara jauh lebih banyak dibanding saat diam. Kalau udaranya penuh asap, partikel berbahaya yang masuk ke paru-paru juga ikut berlipat. Artikel ini membahas kondisi asap saat ini, dampaknya bagi tubuh pelari, dan cara tetap berlatih dengan aman.
Kondisi Kabut Asap Saat Ini
Data yang dihimpun Kemenkes menunjukkan, per 22 Oktober 2026 pukul 08.40 WIB, ada 16 wilayah dengan kualitas udara kategori berbahaya dan 7 wilayah kategori sangat tidak sehat berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
- Palembang, Sumatra Selatan: kabut asap kembali menebal pada Kamis pagi, 22 Oktober 2026. Pemantauan IQAir yang dikutip media lokal mencatat angka indeks 1.925 pada pukul 08.00 WIB, tertinggi sejak asap kembali muncul. Dinkes Sumsel mencatat 8.204 kasus ISPA di Palembang hingga 18 Oktober 2026.
- Palangka Raya, Kalimantan Tengah: kabut asap pekat dengan ISPU kategori berbahaya sempat menyelimuti kota pada pertengahan Oktober. Jumlah titik panas harian di Kalimantan Tengah turun dari 485 titik (15 Oktober) menjadi 26 titik, tetapi asap belum sepenuhnya hilang.
- IKN, Kalimantan Timur: kualitas udara di sekitar kawasan inti pusat pemerintahan sempat masuk kategori tidak sehat.
- Jabodetabek: BMKG menyebut asap karhutla sempat masuk ke wilayah Jawa bagian barat dan Jabodetabek sejak 17 Oktober 2026, lalu mulai menjauh. Tetap pantau kualitas udara harian karena polusi kota sendiri juga berpengaruh.
Kondisi asap bisa berubah dalam hitungan jam, tergantung arah angin dan titik api. Angka di atas adalah gambaran saat artikel ini ditulis. Selalu cek data terbaru sebelum keluar rumah.
Memahami ISPU: Kapan Aman Berlari?
ISPU adalah indeks resmi pemerintah untuk menggambarkan kualitas udara. Berikut panduan praktis untuk pelari berdasarkan kategori ISPU:
| Rentang ISPU | Kategori | Saran untuk Pelari |
|---|---|---|
| 0-50 | Baik | Aman berlari seperti biasa. |
| 51-100 | Sedang | Umumnya aman. Pelari dengan asma atau gangguan napas perlu lebih waspada. |
| 101-200 | Tidak Sehat | Kurangi durasi dan intensitas. Hindari latihan keras di luar ruangan, pilih lari ringan atau pindah ke dalam ruangan. |
| 201-300 | Sangat Tidak Sehat | Jangan berlari di luar ruangan. Latihan di dalam ruangan dengan udara tersaring. |
| 301 ke atas | Berbahaya | Hindari semua aktivitas fisik di luar ruangan. Utamakan istirahat atau latihan ringan di dalam ruangan. |
Data ISPU bisa dicek di situs resmi ispu.menlhk.go.id. Informasi sebaran asap dan titik panas tersedia dari BMKG.
Apa yang Terjadi pada Tubuh Pelari Saat Menghirup Asap?
1. Partikel halus masuk lebih dalam
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, yaitu partikel berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya cukup kecil untuk lolos dari saringan alami hidung dan tenggorokan, lalu masuk hingga ke bagian terdalam paru-paru. Sebagian bahkan bisa masuk ke aliran darah.
2. Volume udara yang dihirup berlipat ganda
Saat istirahat, kita menghirup sekitar 6-8 liter udara per menit. Saat berlari dengan intensitas tinggi, angka ini bisa naik lebih dari sepuluh kali lipat. Pelari juga cenderung bernapas lewat mulut, sehingga udara tidak lagi disaring oleh hidung. Artinya, satu sesi lari di udara berasap bisa membuat paru-paru menerima jauh lebih banyak polutan dibanding orang yang duduk diam di lokasi yang sama.
3. Gangguan napas dan peradangan
Paparan asap dapat memicu iritasi saluran napas, batuk, sesak, dan peradangan. Risikonya lebih tinggi bagi pelari yang punya asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Kemenkes juga menyebut risiko gangguan mata, kulit, hingga penyakit jantung dan stroke akibat paparan asap.
4. Performa menurun
Udara yang buruk membuat tubuh bekerja lebih keras. Banyak pelari merasa pace terasa lebih berat, napas lebih cepat terengah, dan pemulihan lebih lambat. Latihan di kondisi ini bukan hanya berisiko, tetapi juga kurang efektif.
Tips Berlari dengan Aman Saat Musim Asap
- Cek kualitas udara sebelum berlari. Jadikan cek ISPU sebagai rutinitas, sama seperti cek cuaca. Asap bisa lebih pekat pada dini hari dan pagi hari, seperti yang terjadi di Palembang, jadi jangan berasumsi pagi selalu lebih bersih.
- Pindah ke dalam ruangan. Treadmill di gym atau di rumah dengan jendela tertutup adalah pilihan paling aman. Jika memungkinkan, gunakan pemurni udara (air purifier) dengan filter HEPA.
- Ganti jenis latihan. Saat ISPU tinggi, ganti sesi lari dengan latihan kekuatan, mobilitas, core, atau yoga di dalam ruangan. Latihan ini tetap mendukung performa lari tanpa membuat napas terlalu berat.
- Turunkan intensitas. Jika tetap berlari di luar saat kualitas udara masih di kategori sedang, pilih lari santai dengan durasi lebih pendek. Tunda interval, tempo, dan long run.
- Pahami batas masker. Masker kain dan masker medis biasa kurang efektif menyaring partikel asap. Masker tipe N95 atau KN95 jauh lebih baik untuk aktivitas sehari-hari di luar ruangan, tetapi tidak nyaman dan bisa membuat sesak saat dipakai berlari. Masker bukan alasan untuk tetap berlari keras di udara berbahaya.
- Jaga hidrasi. Minum cukup air membantu menjaga kelembapan saluran napas yang teriritasi asap.
- Kenali tanda bahaya. Segera hentikan aktivitas jika mengalami sesak napas, nyeri dada, batuk terus-menerus, pusing, atau mata perih berlebihan. Cari pertolongan medis bila gejala tidak membaik.
- Perhatikan kelompok rentan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan asma, PPOK, atau penyakit jantung perlu lebih berhati-hati. Konsultasikan dengan dokter sebelum berolahraga di masa asap.
Bagaimana dengan Event Lari yang Sudah Didaftarkan?
Jika kamu terdaftar di event lari yang lokasinya berada di wilayah terdampak asap, beberapa hal ini bisa membantu:
- Pantau pengumuman resmi penyelenggara. Penyelenggara biasanya akan mengumumkan penundaan, perubahan jadwal, atau kebijakan khusus bila kualitas udara memburuk.
- Cek ISPU lokasi event beberapa hari sebelum dan pada pagi hari lomba.
- Jangan memaksakan target waktu. Jika udara masih kurang baik, ubah tujuan menjadi sekadar finis dengan aman.
- Jika kamu memiliki riwayat asma, bawa inhaler dan beri tahu tim medis di lokasi.
- Tidak ada medali yang sebanding dengan kesehatan paru-paru. Melewatkan satu lomba jauh lebih baik daripada sakit berkepanjangan.
Kesimpulan
Kabut asap karhutla bukan sekadar gangguan pemandangan. Bagi pelari, asap berarti paparan polutan yang jauh lebih besar karena volume napas meningkat saat berlari. Kuncinya adalah fleksibel: cek ISPU setiap hari, pindahkan latihan ke dalam ruangan saat udara tidak sehat, dan dengarkan sinyal tubuh. Musim asap akan berlalu, dan kamu bisa kembali berlari di luar dengan paru-paru yang tetap sehat.
Sumber: Kementerian Kesehatan RI via Republika (22/10/2026); Sumselupdate (22/10/2026); BMKG via IDN Times; Viva; ISPU KLH. Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan saran dokter.